24 Maart 2013

isi makalah sejarah istana bogor, monas, gedung sate, masjid agung banten, makam sunan gunung jati



A.       Istana Bogor

1. Konsep Awal Pembangunan
Pada masa pendudukan Belanda, kota Jakarta yang dulunya bernama Batavia ditetapkan sebagai pusat pemerintahan. Tetapi, kota Batavia bagi orang Belanda dirasakan terlalu panas, meskipun penduduknya pada waktu itu belum padat seperti sekarang ini. Sehingga diputuskan untuk mencari tempat yang lebih teduh untuk beristirahat.
Sejak awal abad ke-18 dicarilah tempat-tempat peristirahatan di luar kota yang berhawa lebih sejuk, seperti yang dilakukan oleh Gubernur Jenderal Gustaaf Willem Barron Van Imhoff yang mengadakan inspeksi ke daerah Cianjur Jawa Barat pada tanggal 10 Agustus 1744, beliau menemukan tempat yang dianggap strategis dan baik untuk tempat peristirahatan yang letaknya sekarang bernama “BOGOR”.
Kemudian tahun 1745, Gubernur Jenderal Gustaaf Willem Baron Van Imhoff memerintahkan untuk membangun gedung yang sekarang ini dikenal sebagai istana Bogor. Akan tetapi pada waktu itu hanya merupakan sebuah Pesanggerahan yang modelnya ditiru dari Blainheim Palace, tempat kediaman Duke of Malborough (nenek moyang Lady Diana, Putri Wales) dekat Oxford di Inggris. Bangunan itu sendiri diberi nama Buitenzorg (bebas masalah/kesulitan). Nama itu tidak saja digunakan untuk istana, tetapi juga untuk perkampungan sekitarnya.
2. Perkembangan Fisik Bangunan
Pesangggrahan ini pernah mengalami kerusakan akibat serangan pasukan Banten yang dipimpin oleh Kiai Tapa dan Ratu Bagus Buang. Kemudian pada masa pemerintahan Jacob Mossel, membangunnya kembali dengan mempertahankan bentuknya yang semula, sebab anggota Dewan Hindia menasehatkan agar bentuknya jangan dirubah mengingat bangunan Buitenzorg adalah replica dari istna Bleinheim.
Sejak itu beberapa Gubernur Belanda mengadakan perbaikan dan penyempurnaan yang disesuaikan dengan kebutuhan pada saat itu, diantaranya yang dilakukan oleh Gubernur Jenderal Herman Willem Deandles (wakil kaisar Napoleon Bonaparte-Perancis) yang terkenal dengan Tuan Besar Guntur (1808-1811), menambah bangunan di bagian sayap kir dan sayap kanan gedung utama menjadi dua tingkat. Dan juga untuk penghias halamannya dipelihara tiga pasang rusa dari perbatasana India dan Nepal. Jenis rusa ini adalah Rusa tutul (axis-axis species), kini populasinya mencapai ± sekitar 800 ekor.

Ketika kekuasaan Berlanda diambil alih oleh kekuasaan Inggris, tahun 1811-1816 Leutenant Governoor General Thomas Stanford Raffles sebagai wakil dari Monarkhi Inggris Raya di Indonesia, melakukan pemugaran besar-besaran terutama pada bagian tengah bangunan istana menjadi 2 (dua) lantai dan menata ulang taman-taman sekeliling istana menjadi taman-taman model Inggris.
Tahun 1817-1826 Gubernur Jenderal Godert Alexander GP Van Der Cappelen menambahkan menara Lentera (lentera zetrum) tepat pada bangunan sentral. Sebelum tahun 1817 tanah dan tanaman yang mengelilingi sekeliling istana Bogor, berangsur-angsur menjadi kebun-kebun percobaan untuk penyelidikan tumbuh-tumbuhan tropis dari dalam dan luar negeri.
Pada tanggal 18 Mei 1817 kebun percobaan tersebut diresmikan sebagai :kebun Raya” pendirinya Prof. C.G.C. Reinwardt yang pada saat itu menjabat sebagai direktur pertanian, kerajinan, dan ilmu pengetahuan Hindia Belanda.
Tanggal 10 Oktober 1834 wilayah Jawa Barat bagian selatan dan barat diguncang gempa bumi. Sebagian gedung istana rusak berat, sehingga diputuskan untuk dibumiratakan. Pada tahun 1850 Gubernur Jenderal A. Jaco Duymaher Van Twist berinisiatif membangun kembali Buitenz Palzt dengan arsitektur Palladian dengan gaya bangunan abad 19.
Bangunan istana baru terwujud sejak masa pemerintahan Gubernur Jenderal Pahud De Montanger (1856-1861), Lalu pada tahun 1870 Istana Buitenzorg atau istana Bogor resmi ditetapkan sebagai kediaman resmi para Gubernur Jenderl Belanda.
3. Masa Pra Kemerdekaan Hinggga awal Kemerdekaan
Gubernur Jenderal yang terakhir adalah Tjarda Van Starkenbourg Stachuwer. Pada tahun 1942 Balatentara Jepang masuk Indonesia, maka kekuasaan diserahkan kepada Jenderal Imammura.
Setelah perang Dunia II berakhir, dimana Jepang merupakan pihak yang kalah, maka tentara sekutu mengambil alih kekuasaan. Lalu kira-kira 200 orang pemuda yang terbentuk dalam Barisan Keamanan Rakyat (BKR) mnduduki istana Bogor. Tetapi kemudian mereka diserbu oleh tentara Gurkha dan terpaksa meninggalkan bangunan tersebut. Baru pada tanggal 31 Desember 1949 Istana Bogor yang mempunyai luas 28,8 Hektar ini diambil alih oleh pemerintahan Republik Indonesia secara de jure melalui Konferensi Meja Bundar (KMB) di Denhaag Belanda.
4. Istana Bogor sebagai tempat bersejarah
Peranan istana Bogor dalam perjalanan Negera Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) banyak sekali, diantaranya:
·       Tahun 1954, tanggal 28-29 Desember berlangsung Konferensi Panca Negara sebagai persiapan Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung 1955
·       Tahun 1978-1998, Istana Bogor dipergunakan sebagai tempat penataran P4 tingkat Manggala
·       Tahun 1986, berlangsung Jakarta Informal Meeting (JIM) untuk membahas pertikaian antar faksi-faksi di Cambodia (Kamboja)
·       Tahun 1994, tanggal 15 November diselenggarakan Konferensi AELM atau Lebih Populer dengan sebuatan APEC (Asia Pasifik Ekonomic Conference)
·       Tahun 2000 tanggal 19 November, dalam rangka hari Cinta Puspa dan satwa Nasional, didirikan yayasan Kebun Raya Indonesia yang digagas oleh wakil Presiden RI Megawati Soekarno Putri dan disponsori oleh Duta Besar dari Negara-negara sahabat Indonesia
·       Tahun 2001, tanggal 30 Mei dilangsungkan KTT G-15 khusunya acara Ladies Programe.

Menurut letaknya istana blogor dibagi menjadi 3 (tiga) bagian yang setiap bagiannya mempunyai kegunaan yang berlainan, seperti misalnya:
·      Gedung Induk sayap kiri
Mempunyai luas bangunan 325 m2, biasa dipergunakan untuk tempat menginap tamu Negara yang berpangkat menteri
·      Gedung induk/ruang garuda/gedung utama
Istana gedung induk biasa dipakai sebagai tempat penyelenggaraan acara-acara kenegaraan. Seperti pertemuan-pertemuan kenegaraan, januan makan besar, pertunjukkan-pertunjukkan kesenian bila ada kunjungan tamu Negara atau peristiwa penting, disamping juga kegiatan-kegiatan penting yang bersifat Nasional
·      Gedung induk sayap kanan
Bagian ketiga dari gedung Istana Bogor adalah Gedung Induk sayap kanan, biasa dipergunakan untuk menginap tamu-tamu Negara yang memangku jabatan kepala Negara atau kepala pemerintahan.

B.        Sejarah Monas



Monumen Nasional

Monumen Nasional
Informasi umum
Lokasi
Alamat
Lapangan Merdeka
Dimulai
Selesai
Diresmikan
Ketinggian
132 meter
Desain dan pembangunan
Kontraktor utama
P.N. Adhi Karya
(tiang fondasi)
Arsitek
Frederich Silaban,
R.M. Soedarsono

1. Sejarah
Monumen Nasional yang terletak di Lapangan Monas, Jakarta Pusat, dibangun pada dekade 1961an. Tugu Peringatan Nasional dibangun di areal seluas 80 hektar. Tugu ini diarsiteki oleh Soedarsono dan Frederich Silaban, dengan konsultan Ir. Rooseno, mulai dibangun Agustus 1959, dan diresmikan 17 Agustus 1961 oleh Presiden RI Soekarno. Monas resmi dibuka untuk umum pada tanggal 12 Juli 1975.
Pembagunan tugu Monas bertujuan mengenang dan melestarikan perjuangan bangsa Indonesia pada masa revolusi kemerdekaan 1945, agar terbangkitnya inspirasi dan semangat patriotisme generasi saat ini dan mendatang.
Tugu Monas yang menjulang tinggi dan melambangkan lingga (alu atau anatan) yang penuh dimensi khas budaya bangsa Indonesia. Semua pelataran cawan melambangkan Yoni (lumbung). Alu dan lumbung merupakan alat rumah tangga yang terdapat hampir di setiap rumah penduduk pribumi Indonesia.
Lapangan Monas mengalami lima kali penggantian nama yaitu Lapangan Gambir, Lapangan Ikada, Lapangan Merdeka, Lapangan Monas, dan Taman Monas. Di sekeliling tugu terdapat taman, dua buah kolam dan beberapa lapangan terbuka tempat berolahraga pada hari-hari libur

C.        Sejarah Singkat Gedung Sate


Gedung Sate yang terletak di Bandung, pada masa Hindia Belanda  disebut dengan Gouvernements Bedrijven (GB). Peletakan batu pertama Pembangunan gedung sate dilakukan oleh Johanna Catherina Coops, yakni puteri sulung Walikota Bandung, B.Coops dan Petronella Roelofsen, yang mewakili Gubernur Jenderal di Batavia, J.P. Graaf van Limburg Stirum, pada tanggal 27 Juli 1920.
Gedung Sate merupakan hasil perencanaan sebuah tim yang terdiri dari Ir.J.Gerber, arsitek muda kenamaan lulusan Fakultas Teknik Delft Nederland, Ir.Eh.De Roo dan Ir.G.Hendriks serta pihak Gemeente van Bandoeng, yang diketuai oleh Kol.Purnawirawan.VL.Slors dengan melibatkan 2.000 pekerja, 150 orang diantaranya merupakan tenaga pemahat, atau ahli bongpay pengukir batu nisan dan pengukir kayu berkebangsaaan China yang berasal dari Konghu atau Kanton, serta dibantu oleh tukang batu,kuli aduk dan peladen yang berasal dari penduduk Kampung Sekeloa, Kampung Coblong Dago, Kampung Gandok, dan Kampung Cibarengkok, yang sebelumnya mereka menggarap Gedong Sirap (Kampus ITB) dan Gedong Papak (Balai Kota Bandung).
Begitu Kuat dan utuhnya Gedung Sate yang hingga kini masih berdiri kokoh, dikarenakan dinding gedung tersebut terbuat dari kepingan batu-batu yang digali dari bongkahan-bongkahan batu alam yang dipotong kedalam ukuran tertentu yang jumlahnya mencapai ribuan. Kepingan batu-batu tersebut  berasal dari daerah Cihaurgeulis Bandung, diangkut dengan kereta gantung menuruni perbukitan di wilayah Bandung Utara. Kalau kita perhatikan di ujung paling atas Gedung Sate tersebut terlihat tusuk sate yang berjumlah 6 buah yang menunjukan bahwa biaya pembangunan gedung sate menelan biaya sebesar  6 Holden.
Sejak tahun 1980 gedung sate identik dengan Kantor Pemerintahan Propinsi Jawa Barat yang merupakan Kantor Gubernur Jawa Barat beserta para beberapa pejabat pemerintahan lainnya berada di Gedung sate ini, tak heran saat ini  Gedung Sate yang semakin mempesona, menjadi icon Jawa Barat yang tidak tergantikan.

D.        Masjid Agung Banten

Masjid Agung Banten adalah salah satu masjid tertua di Indonesia yang penuh dengan nilai sejarah. Setiap harinya masjid ini ramai dikunjungi para peziarah yang datang tidak hanya dari Banten dan Jawa Barat, tapi juga dari berbagai daerah di Pulau Jawa.
Masjid Agung Banten terletak di Desa Banten Lama, sekitar 10 km sebelah utara Kota Serang. Masjid ini dibangun pertama kali oleh Sultan Maulana Hasanuddin (1552-1570), sultan pertama dari Kesultanan Banten. Ia adalah putra pertama dari Sunan Gunung Jati.
Salah satu kekhasan yang tampak dari masjid ini adalah atap bangunan utama yang bertumpuk lima, mirip pagoda China yang juga merupakan karya arsitek Cina yang bernama Tjek Ban Tjut. Dua buah serambi yang dibangun kemudian menjadi pelengkap di sisi utara dan selatan bangunan utama.
Di masjid ini juga terdapat kompleks pemakaman sultan-sultan Banten serta keluarganya. Yaitu makam Sultan Maulana Hasanuddin dan istrinya, Sultan Ageng Tirtayasa, dan Sultan Abu Nasir Abdul Qohhar. Sementara di sisi utara serambi selatan terdapat makam Sultan Maulana Muhammad dan Sultan Zainul Abidin, dan lainnya.
Masjid Agung Banten juga memiliki paviliun tambahan yang terletak di sisi selatan bangunan inti Masjid ini. Paviliun dua lantai ini dinamakan Tiyamah. Berbentuk persegi panjang dengan gaya arsitektur Belanda kuno, bangunan ini dirancang oleh seorang arsitek Belanda bernama Hendick Lucasz Cardeel. Biasanya, acara-acara seperti rapat dan kajian Islami dilakukan di sini. Sekarang bangunan ini digunakan sebagai tempat menyimpan barang-barang pusaka.
Menara yang menjadi ciri khas Masjid Banten terletak di sebelah timur masjid. Menara ini terbuat dari batu bata dengan ketinggian kurang lebih 24 meter, diameter bagian bawahnya kurang lebih 10 meter. Untuk mencapai ujung menara, ada 83 buah anak tangga yang harus ditapaki dan melewati lorong yang hanya dapat dilewati oleh satu orang. Pemandangan di sekitar masjid dan perairan lepas pantai dapat terlihat di atas menara, karena jarak antara menara dengan laut yang hanya sekitar 1,5 km.
Dahulu, selain digunakan sebagai tempat mengumandangkan adzan, menara yang juga dibuat oleh Hendick Lucasz Cardeel ini digunakan sebagai tempat menyimpan senjata.

E. Makam Sunan Gunung Jati di Cirebon


Sunan Gunung Jati alias Syeh Syarif Hidayatullah adalah salah satu ulama besar penyebar agama Islam di tanah Jawa pada Abad XIV yang dikenal dengan sebutan Wali Sanga, kumpulan para awliyah yang berjumlah sembilan orang dengan pusat perkumpulannya berada di dua tempat, yaitu Cirebon, Jawa Barat dan Demak, Jawa Tengah.
Semasa pemerintahannya selain mendirikan kerajaan Islam Cirebon dan Banten, Sunan Gunung Jati juga berhasil menaklukkan kerajaan jajahan Pajajaran, seperti kerajaan Galuh, Talaga, Maja termasuk kerajaan kakeknya sendiri yaitu Pakuan Pajajaran di tanah Pasundan yang sirna tanpa bekas dengan tujuan meng-Islamkan penduduknya dengan sukarela mengikuti ajaran Rasulullah Muhammad beserta sahabatnya.
Ketika wafat, oleh keturunannya dan para pengikutnya, Sunan Gunung Jati dimakamkan di atas bukit Gunung Sembung yang berjarak 7 Km, arah Utara Kotamadya Cirebon yang sampai saat ini makamnya banyak dikunjungi orang yang berziarah terutama pada malam Selasa Kliwon dan Jum'at Kliwon. Para peziarah itu sendiri bukan saja datang dari sekitar wilayah Cirebon, tetapi juga ada yang berasal dari Surabaya, Semarang, Yogyakarta, Bandung, Jakarta atau kota lain di Sumatera, Bali, Madura dan Kalimantan.
Kompleks makam Sunan Gunung Jati sendiri dikenal dengan nama Astana yang disekelilingnya dipenuhi oleh kuburan para kerabat keraton dari tiga kasunanan, yaitu Kesultanan Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman dan Keraton Kacirebonan, ditambah dengan keluarga besar Pengguron yang  ada di Cirebon. 
Pusara Sunan Gunung Jati berada di puncak Bukit Sembung di dalam sebuah ruang beratap limas dengan memolo kecil yang dikelilingi oleh batu mutu manikam bernilai tinggi, seperti zamrud, batu giok, intan, blue safir dan batu mulia lainnya juga diperkirakan salah satunya adalah batu merah delima yang sangat langka.
Adapun di dalam ruang pasarean (makam) terdapat beberapa makam lain yang terdiri dari Pangeran Cakrabuana, Nyai Pakungwati, Ki Gede Mayung dan Putri Ong Tien yang merupakan salah satu istri Sunan Gunung Jati yang berasal dari negeri Cina. Cuma kuburan Putri Ong Tien dibagi menjadi dua, setengah di dalam ruang, setengah lagi di luar ruang atau tembok penyekat. Hal itu terjadi karena Putri Ong Tien ketika disuruh masuk Islam dan terus mengikuti agama para leluhurnya di negeri Cina. Sehingga oleh Sunan Gunung Jati kuburannya juga dibagi dua.
Itu semua merupakan suatu contoh kepada para pengikut dan keturunannya bahwa jika mengambil suatu keputusan janganlah ragu atau bercabang, apalagi meragukan ajaran Islam yang diajarkan oleh Rasulullah Muhammad yang didapatkan langsung dari Allah.
Para pengunjung atau peziarah masih bisa merasakan kesejukan yang berbau mistis dan wanginya asap pedupaan yang tidak pernah padam. Di ruang ayunan juga terdapat beberapa guci antik, wadasan dan piring gambar berasal dari Cina yang telah berusia ratusan tahun. Di kompleks ini pula terdapat bale atau tempat sidang para raja dari Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Pajajaran.
Benda-benda tersebut dapat dilihat, diraba secara langsung oleh pengunjung dan membuat kagum bagi siapapun yang melihatnya.

Geen opmerkings nie: